Senin, 23 Februari 2015

Gunung Mandi Angin



Belakangan ini di Banjarmasin sedang ngetren berwisata di daerah sendiri yaitu naik gunung mandi angin
Sudah tak asing lagi “tengger” dan “benteng belanda” yg menjadi tujuan wisata banyak orang di pegunungan Mandiangin selain air terjunnya.
Perjalanan kaki dari parkiran menuju Tengger sepertinya kurang lebih 2 kilometer, kami mengurungkan niat ke tengger karna kata Gadung terlalu padat orang,juga untuk hanting  kurang bagus disana, maka kami memberhentikan perjalanan sebelum mencapai puncak.
Niat untuk menyatu dengan alam dan hanting pun bahkan tak dapat terlaksana, dikarenakan banyaknya pengunjung disana yg menikmati kebebasan, memecah dan menjamah kesyahduan malam alias teriak-teriak tak jelas dan bernyanyi tanpa henti walau burung hantu sudah tak bersuara lagi. Lebih buruk lagi cuaca yang sangat tidak mendukung, mendung pun tak terelakkan sehingga hamparan bintang yg berjejer menjadi permandangan yg harusnya dapat dilihat dari atas gunung tidak tampak satupun.
Pada malam ini kami tidak sedikitpun dari kami merasakan ketenangan dan keramahan pegunungan

Subuh, sekitar pukul 4.30 pagi, masih ada beberapa yang bernyanyi dari kejauhan walau tidak sebanyak tengah malam. Dan akupun bergegas mencari tahu apakah sudah waktunya shalat shubuh atau belum, sembari menunggu adzan shubuh tiba (walau tidak ada satupun yg adzan di gunung) akupun mencari tahu arah kiblat. Ini susahnya kalau sedang bepergian ke tempat yg jauh dari kota tanpa membawa kompas.
Syukurnya pada saat itu bulan masih tampak, berbekal ilmu mengetahui arah kiblat dari cahaya matahari maka ku putuskan untuk memakai teori tsb dengan melihat bulan.
Gampangnya, kiblat mengarah pada bayangan matahari yg jatuh pada pukul 4 sore. yang berarti letak sunrise tiba ialah membelakangi kiblat. pada pukul 05.00 pagi walau matahari belum terlihat akan muncul dari mana, kita masih dapat mengandalkan posisi bulan. Menurut beberapa sumber yg ku baca, jika kita berada pada tempat yg tidak kita ketahui dimana arah kiblatnya maka kita harus bertanya pada orang sekitar,dan apabila masih tidak tahu maka boleh menghadap manapun dengan catatan sudah berusaha mencari arah kiblat tersebut sekuat mungin

ini foto saya dan Gadung





saya lagi masih ngantuk



  udah mau turun gunung


Menuju parkiran

jangan pernah naik gunung mandi angin saat weken kalau ingin merasakan ketenangan...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar